Alkisah. Tiga orang pemuda hidup di sebuah desa kecil. Mereka bertiga adalah pemuda yang rajin dan dikenal baik di kalangan masyarakat. Ketiganya juga rajin salat berjamaah di masjid.
Suatu ketika seusai salat magrib di masjid, seorang imam yang sudah sangat tua memanggil ketiga pemuda. Kemudian ketiga pemuda tersebut memenuhi panggilan imam tersebut. Tampaknya sang imam ingin menyampaikan sesuatu. Para pemuda tesebut mencium tangan sang imam tersebut sebagai tanda hormat, kemudian mereka duduk di depan sang imam dengan penuh rasa rendah diri.
Sang imam yang duduknya agak sudah sedikit membungkuk, jenggot dan rambut yang sudah memutih, kulit yang sudah berkerut, dengan nada bicara yang bergetar, menyampaikan sesuatu kepada ketiga pemuda yang sangat hormat kepada orang tua.
“Wahai anak-anakku, lihatlah saya ini, lihatlah keadaan kampung kita ini. Dan coba lihat bagaimana pemuda-pemuda di kampung kita yang sebaya dengan kalian,” kata sang imam dengan nada bicara bergetar, tampak ia tidak lama lagi di dunia ini. Terdengar pekikan batuk tiga kali dari sang imam, kemudian dia melanjutkan lagi pembicaraannya kepada ketika pemuda tersebut.
“Saya ini sudah sangat tua, saya hanya satu-satunya imam di kampung ini. Umur saya tidak lama lagi wahai anak-anakku. Saya takut anak-anakku, saya takut jikalau tuhan telah mengambil nyawaku, siapa lagi yang yang menggantikan aku? Siapa lagi yang jadi imam? Siapa lagi yang menyalati jenazah? Siapa anak-anakku?” Tanya sang imam dengan suara keras hingga air mata berderai di pipinya. Ketiga anak muda tersebut juga ikut meneteskan air mata mereka. Mereka saling bertatapan muka ketika mendengar nasehat dari sang imam tersebut.
“Anak-anakku, tahukah kalian mengapa aku mengungkapkan isi hatiku kepada kalian?” Tanya sang imam lagi. Para pemuda saling bertatapan dan menggelengkan kepala tanpa menjawab dengan kata-kata tanda tidak tahu jawaban dari pertanyaan sang imam.
“Saya sengaja memanggil kalian, karena hanya pada kalian yang hanya bisa saya titipkan harapan saya. Karena saya melihat hanya kalian bertigalah yang terbaik dari pemuda-pemuda yang lain di kampung ini. Kalian rajin salat berjamaah, kalian ta`zim kepada orang tua, kalian berakhlak mulia. Maka saya menaruh harapan kepada kalian agar kalian mejadi pengganti saya di kelak hari jika saya tiada lagi,” pinta sang imam dengan penuh harapan.
Lalu ketiga pemuda tersebut saling bertatapan muka. Kemudian seorang dari mereka mengatakan kepada sang imam, ”Pak imam, kami mau menuruti apa kata pak imam. Memang kami juga mengawatirkan keadaan Pak Imam. Tapi kami ini orang-orang yang tidak ada ilmu, bagaimana kami bisa menggantikan Pak Imam?” Keluh seorang dari ketiga pemuda tersebut.
“Tenang saja wahai pemuda. Di pulau seberang ada seorang ulama shalih yang terkenal sangat wara`, kalian harus belajar padanya. Insya Allah setelah kalian belajar di sana, kalian akan bisa menggantikanku jika aku telah tiada nanti,” kata sang imam dengan gembira karena sudah ada calon penggantinya.
Kemudian ketiga pemuda tersebut bermusyawarah. Keesokan harinya mereka langsung berangkat ke pulau seberang untuk belajar pada seorang ulama shalih yang ditunjukkan sang imam. Sesampai di pulau seberang mereka bertemu dengan ulama shalih. Ulama salih tersebut menerima ketiga pemuda sebagai muridnya.
Namun, ulama shalih tidak mengajarkan mereka. Sampai berbulan-bulan ketiga pemuda hanya disuruh bekerja. Ketiga pemuda bertanya-tanya mengapa mereka disuruh bekerja, padahal tujuan mereka menuntut ilmu. Lalu seorang dari ketiga pemuda memutuskan untuk pulang kampung saja, karena ia merasa dipermainkan oleh ulama shalih. Tinggallah dua pemuda lagi. Mereka berdua tetap bertahan dan bersabar. Mungkin mereka hanya disuruh bekerja dulu, baru diajarkan ilmu-ilmunya kepada mereka.
Setahun sudah kedua pemuda bekerja di tempat orang shalih. Namun keduanya masih disuruh bekerja saja. Lalu seorang diantara keduanya hilang kesabaran dan memutuskan untuk pulang kampung juga. Akhirnya tinggallah seorang lagi.
Ternyata, ulama shalih tersebut menguji kesabaran ketiga pemuda tersebut. Karena ia menginginkan muridnya adalah orang yang sabar dan tabah. Seorang pemuda lagi yang masih bertahan di tempat ulama shalih akhirnya dijadikan sebagai muridnya dan diajarkan segala ilmu yang ada padanya. Hingga akhirnya pemuda yang satu ini menjadi ulama besar dan menjadi pengganti sang imam di kampungnya. Sementara kedua pemuda yang menyerah tadi tidak mendapat apapun dan tidak menjadi apapun.
Ternyata ilmu itu didapat dari kesabaran dan usaha keras. Pepatah arab mengungkapkan man shabara zhafira, siapa bersabar beruntunglah ia.
Telah dimuat di Rubrik Cang Panah, Harian Aceh 31 Desember 2010
Sabtu, 01 Januari 2011
Selasa, 28 Desember 2010
Senin, 27 Desember 2010
Hafeez Mirip Irfan Bachdim??
Hahaha, hehehe, huahaaa, hah hah hah, Dsb. Berbagai macam jenis ketawa pasti akan menyerangku, pasti banyak meledekku dengan pernyataan ini. Namun, ini bukan merupakan narsis, tapi kisah nyata yang kutulis. Ikuti kisah unik ini.
Senin, 27 Desember 2010, sekitar pukul 16.00 Wib selepas shalat ashar aku berangkat ke kampus untuk mengikuti kuliah Bahasa Arab. Sampai di kampus, aku bergabung dengan kwan-kawan di kelas, ngobrol-ngobrol sambil menunggu ibu dosen datang. Dari semua pembicaraan yang kudengar di ruangan itu, semua membicarakan tentang kekalahan Indonesia VS Malaysia dengan kekalahan telak 0-3. Semua mengungkapkan kekesalannya atas kekalahan Indonesia. Namun, sebagian besar mengungkapkan kekesalannya terhadap suporter Malaysia yang berbuat curang.
“Indonesia kalah gara-gara petasan Malaysia” ungkap seorang teman.
“Petasan dan Laser Malaysia penggangu konsentrasi Timnas kita”.
“palak kali aku sama suporter Malaysia” jawab yang lainnya.
Dan banyak lagi ungkapan kekesalan mereka.
Berbeda dengan yang cewek. Mereka lebih banyak memuji para pemain, baik pemain Indonesia maupun Malaysia. Dari mulut mereka keluar nama-nama bambang Pamungkas, Irfan Bachdim, Firman Utina, dan lain-lain.
“hei, si Safee nama panjangnya apa lu?” tanya seorang cewek, tampaknya kagum dengan pencetak gol terbanyak Malaysia tersebut.
Tiba-tiba ibu dosen sudah tiba di ruangan. Semua merapikan duduknya.
Ibu dosen menyuruh kepada kami untuk mengumpulkan PR (pekerjaan rumah), setelah semua terkumpul, sejenak ia memperhatikan hasil kerja mahasiswanya tersebut. Tiba-tiba pandangan ibu dosen mengarah kepadaku. Lalu ia tersenyum.
“Hafizi, saya kalau lihat kamu mirip teringat sama Irfan Bachdim. Kamu mirip sekali sama irfan Bachdim” ungkap ibu dosen.
Semua mata tertuju padaku. Sebagian besar mengiyakan pernyataan ibu dosen tadi. Beberapa yang lain diam dan tersenyum.
Aduuuuh, aku jadi malu dan tersipu. Hehehe.
Label:
Cerpen
Minggu, 26 Desember 2010
Cara Me-Restart Handphone Nokia
Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh........
Apa kabar semua? Pasti baik-baik saja kan?!
Tulisan-tulisan saya sebelumnya banyak yang berbau opini dan cerpen. Namun, kali ini saya coba menyajikan tulisan yang berbeda. Oke, langsung saja ya.
Dizaman yang serba canggih ini, teknologi komunikasi adalah yang paling banyak di pakai. Karena memang hal ini yang paling dibutuhkan dari teknologi lainnya. Salah satu teknologi komunikasi yang paling banyak dipakai adalah handphone atau sering disingkat dengan sebutan HP. Mulai dari pelajar, pedagang, guru, ibu rumah tangga,buruh, dan lain-lain. yang pastinya HP telah dipakai oleh semua kalangan.
Ditingkat para pelajar maupun mahasiswa, HP yang paling banyak diburu adalah HP yang mempunyai Sim Card Memory. Karena HP jenis ini bisa menyimpan banyak lagu dan berbagai aplikasi. HP yang seperti ini sering mengalami error. bisa jadi disebabkan oleh memory sudah penuh, kesalahan pemasangan software/aplikasi, dan terinveksi Virus.
Para pemakai HP biasanya kalau sudah error HP nya biasanya di bawa ke tempat servis untuk di restart ulang, yang pastinya mengurangi isi dompet anda. Mulai sekarang saya menyarankan jika terjadi error di HP anda, tidak usah ,mengeluarkan biaya untuk merestartnya. Karena anda bisa melakukannya sendiri. Mau tau bagaimana? ikuti perintah di bawah. Disini say hanya mengajarkan cara restart HP jenis Nokia, karena HP ini yang paling banyak dipakai.
Cara restart_____
Pindahkan dulu data-data penting di HP anda
kemudian tekan *#7780#
Oke, mudah kan....?!!!
Apa kabar semua? Pasti baik-baik saja kan?!
Tulisan-tulisan saya sebelumnya banyak yang berbau opini dan cerpen. Namun, kali ini saya coba menyajikan tulisan yang berbeda. Oke, langsung saja ya.
Dizaman yang serba canggih ini, teknologi komunikasi adalah yang paling banyak di pakai. Karena memang hal ini yang paling dibutuhkan dari teknologi lainnya. Salah satu teknologi komunikasi yang paling banyak dipakai adalah handphone atau sering disingkat dengan sebutan HP. Mulai dari pelajar, pedagang, guru, ibu rumah tangga,buruh, dan lain-lain. yang pastinya HP telah dipakai oleh semua kalangan.
Ditingkat para pelajar maupun mahasiswa, HP yang paling banyak diburu adalah HP yang mempunyai Sim Card Memory. Karena HP jenis ini bisa menyimpan banyak lagu dan berbagai aplikasi. HP yang seperti ini sering mengalami error. bisa jadi disebabkan oleh memory sudah penuh, kesalahan pemasangan software/aplikasi, dan terinveksi Virus.
Para pemakai HP biasanya kalau sudah error HP nya biasanya di bawa ke tempat servis untuk di restart ulang, yang pastinya mengurangi isi dompet anda. Mulai sekarang saya menyarankan jika terjadi error di HP anda, tidak usah ,mengeluarkan biaya untuk merestartnya. Karena anda bisa melakukannya sendiri. Mau tau bagaimana? ikuti perintah di bawah. Disini say hanya mengajarkan cara restart HP jenis Nokia, karena HP ini yang paling banyak dipakai.
Cara restart_____
Pindahkan dulu data-data penting di HP anda
kemudian tekan *#7780#
Oke, mudah kan....?!!!
Label:
Tips
Indonesia Kalah, Malaysia Curang
Minggu malam, Indonesia mengalami kekalahan di kandang malaysia dengan skor 3-0 mengalahkan Indonesia.
Namun kekalahan Indonesia disebabkan oleh banyak hal. Suasana pertandingan yang tidak sehat alias tidak sportif penyebab terbesar kekalahan Indonesia. Asal-muasal pertandingan tidak sehat ini adalah suporter Malaysia menyorotkan sinar laser ke mata Markus Horison, penjaga gawang andalan Indonesia.
Kejadian bermula dari ketika pemain Malaysia hendak melakukan tendangan bebas di luar garis pinalti Indonesia, tiba-tiba markus protes kepada wasit karena matanya ditembak dengan sinar laser yang berasal dari arah suporter Malaysia. Kemudian wasit menghentikan pertandingan beberapa saat. Namun suporter Malaysia tetap juga berulah. Mereka meledakkan petasan ke udara yang membuat pertandingan geger.
Namun, tidak lama kemudian pertandingan dilanjutkan kembali. Pemain Indonesia tidak konsentrasi lagi, permainan personel Indonesia jadi tidak meyakinkan lagi hingga gawang Markus Horison kebobolan. Kehilangan konsentrasi ini menyebabkan penampilan Indonesia turun drastis. Sehingga menyebabkan gawang Indonesia dibobol dua gol lagi. Hingga akhir pertandingan Indonesia kalah 3-0.
Namun, menurut saya ini semua karena kecurangan dari pihak malaysia. Jika hal seperti tadi tidak terjadi, saya yakin Indonesia tidak akan kalah seperti itu dan penampilan pemain Indoonesia yang turun jauh dari sebelumnya.
Tapi tidak mengapa, permainan Indonesia cukup sportif. Jangan bersedih dan jangan menyerah Indonesia. Masih ada kesempatan sekali lagi. Namun, walaupun engkau kalah nanti, engkau tetap yang terbaik. Karena mereka terlah menunjukkan permainan yang sangat buruk. Tetaplah sportif. Kejahatan janganlah dibalas dengan kejahatan.
Hidup Indonesia................
Label:
Sport
Sabtu, 25 Desember 2010
Ayah, Maafkan Aku Tak Sepertimu
Ayah,
Orang-orang memujimu
pelantun ayat-ayat tuhan dengan suara paling merdu
engkau dipuji dan dirindu
karena suaramu yang syahdu
Namun, tuhan begitu cepat memanggilmu
Engkau begitu cepat berlalu
Semua merasa kehilanganmu
Kau tinggalkan istrimu
Tinggalkan anakmu
saudaramu
Kau tinggalkankan kawan-kawanmu
Kau tinggalkan murid-muridmu
Ayah,
Engkau dipuji,
Engkau dimulai,
Suaramu dirindui
Ayah,
Aku adalah anakmu
Mereka berharap aku meneruskan dirimu
Melantunkan ayat-ayat tuhan dengan syahdu
Mereka inginkan aku sepertimu
Tebarkan suara emasmu
Namun ayah,
Suara emas mu tidak ada padaku
Tuhan tidak berikan padaku
Suara syahdumu,
Suara merdumu
Ayah,
Memang engkau sudah tahu,
Suaramu tidak ada padaku
Tapi aku malu,
Malu pada mereka
Tak sanggup syairkan lagu syahdu
Ayah,
Maafkan anakmu,
Karena aku tak sepertimu
Ulee Kareng, 25 Desember 2010
(Puisi persembahan untuk ayahku: Sang Qori yang wafat pada 27 Juni 2010)
Oleh Hafeez Jiddan
Orang-orang memujimu
pelantun ayat-ayat tuhan dengan suara paling merdu
engkau dipuji dan dirindu
karena suaramu yang syahdu
Namun, tuhan begitu cepat memanggilmu
Engkau begitu cepat berlalu
Semua merasa kehilanganmu
Kau tinggalkan istrimu
Tinggalkan anakmu
saudaramu
Kau tinggalkankan kawan-kawanmu
Kau tinggalkan murid-muridmu
Ayah,
Engkau dipuji,
Engkau dimulai,
Suaramu dirindui
Ayah,
Aku adalah anakmu
Mereka berharap aku meneruskan dirimu
Melantunkan ayat-ayat tuhan dengan syahdu
Mereka inginkan aku sepertimu
Tebarkan suara emasmu
Namun ayah,
Suara emas mu tidak ada padaku
Tuhan tidak berikan padaku
Suara syahdumu,
Suara merdumu
Ayah,
Memang engkau sudah tahu,
Suaramu tidak ada padaku
Tapi aku malu,
Malu pada mereka
Tak sanggup syairkan lagu syahdu
Ayah,
Maafkan anakmu,
Karena aku tak sepertimu
Ulee Kareng, 25 Desember 2010
(Puisi persembahan untuk ayahku: Sang Qori yang wafat pada 27 Juni 2010)
Oleh Hafeez Jiddan
Label:
Puisi
Wartawan Baru Masuk Hotel
Hari rabu tanggal 22 Desember 2010, aku dan kawanku Hidayatullah, punya tugas liputan berita Acara Seminar Jurnalisme bencana. Kebetulan seminarnya di hotel Grand Nanggroe Hotel, Banda Aceh.
Jujur saja aku seorang anak yang berasal dari kampung. Tinggal jauh di pelosok Desa yang jauh dari keramaian kota dan rumah ku dekat gunung lagi. Tidak asing lagi suara monyet sering terdengar di telingaku.
Dan aku tidak malu mengakuinya bahwa aku belum pernah masuk ke hotel, apalagi nginap. Dulu Pernah sih waktu duduk kelas II SMP, aku terpilih sebagai perwakilan kecamatanku Qori tingkat anak-anak untuk mengikuti lomba MTQ se-Kabupaten Aceh Selatan, di Tapaktuan. Selama mengikuti perlombaan aku nginap gratis di salah satu hotel di kota Tapaktuan. Hmmmm, namanya ja hotel, tapi di dalam nya tidak lebih dari sebuah tempat penginapan biasa (ya semacam losmen lah). Ruang yang kurang bersih, kamr mandi yang bau, dan ruangan panas tidak ber-AC lagi. Yaah, aku tidak menganggapnya sebagai hotel. Cuma namanya saja hotel.
Pagi itu, sesampai di hotel yang dituju aku dan kawanku Hidayatullah memarkir kereta di depan hotel. Lalu, kami berdua tidak darimana kami harus masuk.
“pak, acara seminarnya dimana ya” tanyaku pada seorang satpam.
“O, masuk aja ke dalam dek” jawab sang satpam yang berwajah ramah sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah pintu masuk.
“terimakasih pak, ya” balasku lagi.
Segera kami menuju pintu masuk yang ditunjuk oleh satpam tadi. Namun, alangkah terkejutnya, pas sampai di pintu terdengar suara “tuuuuuuuuuuuut”. Kawanku pun terkejut.
“suara apa tu Fiz?” bisik Hidayat
“gak tau Yat, apa itu pendeteksi bom?” jawabku.
“hah, napa alat tu berbunyi? Jangan-jangan kita disangka teroris lagi” kata Hidayat dengan agak gelisah.
“aaaah, gak mungkin lah. Kita kan gak bawa bom, Cuma bawa laptop, yook kita masuk tros” balasku sambil menenangkan Hidayat, kemudian kami langsung masuk ke dalam hotel tersebut untuk menuju ke tempat seminar.
Namun, kami terbengong-bengong karena tidak tahu dimana ruangan seminar tersebut.
“fiz, coba tanya ma ma abang yang duduk disitu”suruh dayat kepadaku.
“eh, tadi kan aku dah bertanya ma satpam, karang giliran kamu yang bertanya”kataku.
Lalu Hidayat membisikkan kepadaku.
“aku gak berani nanya, aku malu”.
Hahahaha.....ternyata Hidayat seorang yang besar kemaluannya. Eh salah, maksudnya besar malunya.hehehhe.
Ah, aku mengalah saja, aku bertanya sama orang yang sedang duduk baca koran. Setelah aku bertanya, orang itu menunjuk kepada sebuah meja, disitu ada seorang perempuan. Lalu kami menuju kesitu, dan yang bertanya aku lagi, Hidayat hanya diam saja. Perempuan itu menunjuk ke suatu ruangan sebelah kiri sambil ngomong seperti karyawan telkomsel di Call Center 116.
Kami langsung menuju keruangan yang ditunjuk. Nah, sekarang baru ketemu tempatnya. Kami langsung mengisi buku tamu lalu masuk. Ternyata peserta seminar belum banyak yang datang. Padahal di jadwal yang telah tertulis acara dimulai tepat jam 9.00 Wib. Jam sudah menunjukkan jam 9.20 acara belum juga dimulai. Ternyata budaya jam karet masih tetap berlaku.
Setelah menunggu dua puluh menit, acara baru dimulai. Acara berlangsung hangat. Namun masih banyak kursi peserta belum terisi.
Kira-kira jam 10.30 Wib acara dihentikan sejenak untuk istirahat. Para peserta semuanya keluar untuk minum di restoran hotel tersebut. Kecuali kami berdua yang tidak keluar dan aku membisikkan pada Hidayat “kita tetap disini ja ya, soalnya kalau kita minum di restoran itu mahal nanti bayarnya, kita gak da uang”.
“Okelah kalau begitu” jawab Hidayat.
Lalu Hidayat membisikkan kepadaku lagi “Hafiz, aku kebelet kencing, gimana ni, kamar kecilnya dimana lu?”
“ya udah keluar terus cari kamar kecilnya” jawabku.
Dia langsung keluar mencari kamar kecil. Tidak lama beberapa saat dia kembali lagi.
“kenapa Yat, gak jadi buang air kecil?”
“bukan, gak tau dimana kamar kecilnya. Aduuuuh gimana ni, gak tahan lagi ni?”
“Kenapa gak tanya ja sama orang-orang disitu?”
Gak berani aku”
Hahaha, ternyata sifat takut bertanya tidak hilang-hilang walaupun dalam keadaan sekarat. Kalau gini aku kerjain saja dia. Aku sengaja membiarkan dia lama-lama menahan pipis.
“fiz, coba kamu tanya dulu sama abang tu dimana kamar kecilnya?” Pinta Hidayat padaku.
“eh, kok suruh sama aku, yang mau pipis siapa?’ Bantahku padanya sambil tertawa dalam hati.
Tidak lama kemudian seorang panitia memanggil kami “Dek ,minum dulu”.
Ah, ternyata minum di restoran saat itu gratis karena ditanggung oleh panitia. Hahaha, beginilah orang kampung.
Lalu kami bergegas mengambil minum di restoran tersebut. Lalu langsung mengambil tempat duduk. Namun si Hidayat masih menahan pipis. Dia tetap juga menahan. Lalu aku kasihan padanya, aku bertanya pada seorang pelayan restoran yang gayanya agak kebencongan dikit.
“Bang, kamar kecilnya dimana ya?” tanyaku.
“lurus terus kesana, lalu belok kiri” jawab si pelayan dengan gaya cowok kecewean alias wari sambil menunjuk ke dapan.
Hidayat langsung menuju arah arah yang ditunjuk pelayan tadi.
Selepas acara tersebut, kami makan di siang di restoran yang sama. Aku makan sambil membuka laptop untuk mengirim berita viaa e-mail ke redaktur Acehjurnal.com.
Waktu pulang aku tertawa sendiri mengingat kejadian tadi. Namun seru juga ya jadi wartawan, bisa masuk ke segala tempat walaupun gak punya uang...hehehe
Jujur saja aku seorang anak yang berasal dari kampung. Tinggal jauh di pelosok Desa yang jauh dari keramaian kota dan rumah ku dekat gunung lagi. Tidak asing lagi suara monyet sering terdengar di telingaku.
Dan aku tidak malu mengakuinya bahwa aku belum pernah masuk ke hotel, apalagi nginap. Dulu Pernah sih waktu duduk kelas II SMP, aku terpilih sebagai perwakilan kecamatanku Qori tingkat anak-anak untuk mengikuti lomba MTQ se-Kabupaten Aceh Selatan, di Tapaktuan. Selama mengikuti perlombaan aku nginap gratis di salah satu hotel di kota Tapaktuan. Hmmmm, namanya ja hotel, tapi di dalam nya tidak lebih dari sebuah tempat penginapan biasa (ya semacam losmen lah). Ruang yang kurang bersih, kamr mandi yang bau, dan ruangan panas tidak ber-AC lagi. Yaah, aku tidak menganggapnya sebagai hotel. Cuma namanya saja hotel.
Pagi itu, sesampai di hotel yang dituju aku dan kawanku Hidayatullah memarkir kereta di depan hotel. Lalu, kami berdua tidak darimana kami harus masuk.
“pak, acara seminarnya dimana ya” tanyaku pada seorang satpam.
“O, masuk aja ke dalam dek” jawab sang satpam yang berwajah ramah sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah pintu masuk.
“terimakasih pak, ya” balasku lagi.
Segera kami menuju pintu masuk yang ditunjuk oleh satpam tadi. Namun, alangkah terkejutnya, pas sampai di pintu terdengar suara “tuuuuuuuuuuuut”. Kawanku pun terkejut.
“suara apa tu Fiz?” bisik Hidayat
“gak tau Yat, apa itu pendeteksi bom?” jawabku.
“hah, napa alat tu berbunyi? Jangan-jangan kita disangka teroris lagi” kata Hidayat dengan agak gelisah.
“aaaah, gak mungkin lah. Kita kan gak bawa bom, Cuma bawa laptop, yook kita masuk tros” balasku sambil menenangkan Hidayat, kemudian kami langsung masuk ke dalam hotel tersebut untuk menuju ke tempat seminar.
Namun, kami terbengong-bengong karena tidak tahu dimana ruangan seminar tersebut.
“fiz, coba tanya ma ma abang yang duduk disitu”suruh dayat kepadaku.
“eh, tadi kan aku dah bertanya ma satpam, karang giliran kamu yang bertanya”kataku.
Lalu Hidayat membisikkan kepadaku.
“aku gak berani nanya, aku malu”.
Hahahaha.....ternyata Hidayat seorang yang besar kemaluannya. Eh salah, maksudnya besar malunya.hehehhe.
Ah, aku mengalah saja, aku bertanya sama orang yang sedang duduk baca koran. Setelah aku bertanya, orang itu menunjuk kepada sebuah meja, disitu ada seorang perempuan. Lalu kami menuju kesitu, dan yang bertanya aku lagi, Hidayat hanya diam saja. Perempuan itu menunjuk ke suatu ruangan sebelah kiri sambil ngomong seperti karyawan telkomsel di Call Center 116.
Kami langsung menuju keruangan yang ditunjuk. Nah, sekarang baru ketemu tempatnya. Kami langsung mengisi buku tamu lalu masuk. Ternyata peserta seminar belum banyak yang datang. Padahal di jadwal yang telah tertulis acara dimulai tepat jam 9.00 Wib. Jam sudah menunjukkan jam 9.20 acara belum juga dimulai. Ternyata budaya jam karet masih tetap berlaku.
Setelah menunggu dua puluh menit, acara baru dimulai. Acara berlangsung hangat. Namun masih banyak kursi peserta belum terisi.
Kira-kira jam 10.30 Wib acara dihentikan sejenak untuk istirahat. Para peserta semuanya keluar untuk minum di restoran hotel tersebut. Kecuali kami berdua yang tidak keluar dan aku membisikkan pada Hidayat “kita tetap disini ja ya, soalnya kalau kita minum di restoran itu mahal nanti bayarnya, kita gak da uang”.
“Okelah kalau begitu” jawab Hidayat.
Lalu Hidayat membisikkan kepadaku lagi “Hafiz, aku kebelet kencing, gimana ni, kamar kecilnya dimana lu?”
“ya udah keluar terus cari kamar kecilnya” jawabku.
Dia langsung keluar mencari kamar kecil. Tidak lama beberapa saat dia kembali lagi.
“kenapa Yat, gak jadi buang air kecil?”
“bukan, gak tau dimana kamar kecilnya. Aduuuuh gimana ni, gak tahan lagi ni?”
“Kenapa gak tanya ja sama orang-orang disitu?”
Gak berani aku”
Hahaha, ternyata sifat takut bertanya tidak hilang-hilang walaupun dalam keadaan sekarat. Kalau gini aku kerjain saja dia. Aku sengaja membiarkan dia lama-lama menahan pipis.
“fiz, coba kamu tanya dulu sama abang tu dimana kamar kecilnya?” Pinta Hidayat padaku.
“eh, kok suruh sama aku, yang mau pipis siapa?’ Bantahku padanya sambil tertawa dalam hati.
Tidak lama kemudian seorang panitia memanggil kami “Dek ,minum dulu”.
Ah, ternyata minum di restoran saat itu gratis karena ditanggung oleh panitia. Hahaha, beginilah orang kampung.
Lalu kami bergegas mengambil minum di restoran tersebut. Lalu langsung mengambil tempat duduk. Namun si Hidayat masih menahan pipis. Dia tetap juga menahan. Lalu aku kasihan padanya, aku bertanya pada seorang pelayan restoran yang gayanya agak kebencongan dikit.
“Bang, kamar kecilnya dimana ya?” tanyaku.
“lurus terus kesana, lalu belok kiri” jawab si pelayan dengan gaya cowok kecewean alias wari sambil menunjuk ke dapan.
Hidayat langsung menuju arah arah yang ditunjuk pelayan tadi.
Selepas acara tersebut, kami makan di siang di restoran yang sama. Aku makan sambil membuka laptop untuk mengirim berita viaa e-mail ke redaktur Acehjurnal.com.
Waktu pulang aku tertawa sendiri mengingat kejadian tadi. Namun seru juga ya jadi wartawan, bisa masuk ke segala tempat walaupun gak punya uang...hehehe
Label:
Cerpen
Langganan:
Postingan (Atom)


